Minggu, 01 Agustus 2010

CERPEN


Alek Menebus Impian

I
Kali waktu, saya diajak nonton teman saya, Alek. Dia ngajak saya nonton, karena dia diajak teman barunya, Dwi S. Mahasiswa sastra inggris angkatan 2009, yang dikenalnya beberapa hari sebelumnya. Alek juga menegaskan, alasan dia menuruti keinginan temannya, yang baru dikenalnya  beberapa hari lalu, dalam perjumpaan satu kali pertemuan, yaitu karena temannya, berdasarkan sms-nya, butuh teman untuk diskusi.
“Aneh?” pikirku dalam hati menanggapi keputusan Alek yang di luar kebiasaan. Seperti yang saya kenal, Alek orangnya tidak mudah percaya. Ia selalu berhati-hati dan teliti. Ia selalu mawas. Jangan mudah percaya pada siapa pun. Bahkan pada diri sendiri, tandasnya setiap berbagi cerita.
“Anaknya baik kok. Dia juga religius. Sms-nya selalu diawali kata bismillah”, untuk kesekian alek menceritakan tentang temannya panjang lebar. Menurut Alek, temannya yang satu ini beda dengan perempuan lainnya. Beda dengan kebiasaan dan perangai muda-mudi masa kini. “Orangnya sopan dan penuh perhatian”, Alek meyakinkan saya untuk menemaninya.
II
Pukul 12 30 WIB, saya dan Alek tiba di Delta Plasa Surabaya. Tanpa mengacarai untuk keliling atau melihat koleksi buku-buku baru di toko buku Gramedia atau Gunung Agung, Alek langsung memutuskan menuju ke lantai lima. “Ingat, kita ke sini bukan hanya sekadar nonton. Tapi juga berdiskusi. Berbagi ilmu”, selorohnya seperti suara eskalator. Saya hanya menanggapi ringan, “bersemangat banget. Kita nonton film apa sih?”. Saya dan Alek tiba-tiba sadar, bahwa sejak kemarin kami belum tahu judul yang akan ditonton dan didiskusikan.
Di lantai lima, Alek langsung memerkenalkan saya pada teman barunya, yang ngajak nonton dan diskusi. Ia menyuruh saya untuk menuliskan nama saya dan namanya di kupon film “Menebus Impian”, yang akan ditukarkan dengan tiket di loket. Yang paling membuat saya takjub, ternyata peserta nonton dan diskusi film teman baru Alek, melimpah ruah. Saya hitung sekitar dua puluh orang lebih. Oh, ya saya juga berkenalan dengan peserta nonton dan diskusi film yang sudah sarjana. Iqbal namanya. Dia sarjana ekonomi. Senyumnya manis. Orangnya kecil.
“Mbak, nanti diskusinya di mana?” tanyaku iseng pada perempuan di sebelahku. Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia memandangku agak heran. Ia seperti mengulur waktu.
“Mas diajak Dwi ya?”
“Ya”
“Dia itu jualan tiket mas”, perempuan itu lalu melempar senyum. Senyum yang tak ubahnya ejekan. Mendengar penjelasan dan cerita perempuan di sampingku, sontak Alek menegang. Matanya agak memerah. Kata-katanya seperti hujan yang akan usai. Satu-satu.
“Kenapa Lek?”
“Pulang yuk. Ikhlaskan saja uang kita!” mendengar penjelasan bahwa teman barunya, hanya menjual tiket film “Menebus Impian”, dan tak ada acara diskusi, ternyata membuat Alek terbelalak. Dia tidak nyangka bahwa teman barunya, yang menurutnya membutuhkan teman diskusi, ternyata makelar tiket. Penjual tiket.
III
Dengan wajah dirundung keterpaksaan, Alek akhirnya mau menerima saran saya: kita nonton saja yuk!. Cukup kali ini kita dipaksa membeli kucing dalam karung. Kita dijebak. Kita disuruh datang jauh-jauh, hanya untuk nonton film di tempat yang tidak wah dan mewah...
IV
Film Menebus Impian, kira-kira kurang lebih bercerita begini: ada seorang anak. Namanya Nur (Acha). Ia berjuang untuk mencapai cita-citanya: menjadi orang yang sukses. Orang berhasil. Tangga dramatik film ini dimulai, ketika Nur, pada mulanya mengalami kegagalan dalam usahanya. Berbagai usaha telah dirambah dan dirintisnya. Tapi berulang ia gagal. Pertemuannya dengan Dian (Ferdi Nuril), seorang penjaja “Networking” yang jatuh cinta padanya, telah menghadirkan semangatnya untuk membuka usaha ‘memprospek orang’ dengan jalan ikut bergabung dengan “Grand Vision”.
Di tengah usahanya mencari down-line, ibunya Nur jatuh sakit. Dia terpaksa nyambi di bar. Kuliahnya cuti. Di tengah perjalanan pun, ia dihadapkan dengan keputusasaan. Tapi berkat bimbingan Dian dan para mentor seniornya, Nur mampu bertahan. Nur mampu menebus impiannya: mendapat hadiah mobil.
V
Selama menonton “Menebus Impian”, berulang Alek menanyakan waktu. Ia seolah gerah dengan suasana film yang lebih menonjolkan tontonan keberhasilan masyarakat konsumtif. Masyarakat yang begitu giat dan getol memasarkan produk dan mengonsumsi produk ‘orang lain’. Parahnya lagi, masyarakat yang diprospek hanya bangga dengan hadiah mobil. Mereka telah dibutakan akan kenyataan, bahwa keuntungan terbesar telah lari ke laur negeri; ke pemilik modal dan produk.
Dengan kata yang lebih ekstrim lagi, film “Menebus Impian” ini juga menawarkan paradoks. Berdasarkan promosinya, setiap orang hanya perlu bermodal keinginan. Sedang pada pelaksanaan setiap orang mesti punya akumulasi belanja 2 juta. Wow! Paham kapitalisme macam apalagi. Pola pikir konsumtif yang meninabobokkan. Keinginan dan cita-cita besar yang mengawang. Tidak membumi. Cita-cita yang hanya bisa menikmati dan memasarkan produk ‘orang lain’.
VI
 Film habis, saya lihat Alek seperti terbebas dari himpitan dan tindihan batu yang sangat besar. Dia dengan terburu-buru beranjak dari tempat duduk. Untuk sejenak mengusir gusarnya. Saya menggodanya dengan pertanyaan akan kesannya tentang film yang baru saja usai ditontonnya. Tanpa sekadar menyempatkan menoleh ke saya yang berjalan menyusul di belakangngya, Alek melempar komentar yang agak padas.
“Film orang-orang kapitalis. Ini bukan film yang memang lahir dari kenyataan. Tapi film yang diangkat berdasarkan pesanan kaum kapitalis. Film yang diangkat untuk mempropagandakan “Grand Vision”, “Networking” rayuan ala kapitalisme. Saya sarankan hanung, Acha, Ferdi dan para pemainnya untuk berhenti menggeluti film. Mereka mending kerja mempropspek orang saja. Lebih sialnya lagi, generasi kita pun telah tercekoki. Mental generasi bangsa ini akan terus sakit: mental yang hanya bisa bermimpi. Hanya bisa memprospek orang. Hanya bisa mengonsumsi. Tapi tidak bisa memproduksi”
“Terus, gimana dengan Dwi? Dia kan religius?”
“Apanya yang religius. Dia itu juga kapitalis berkedok jilbab.
VII
Mendengar komentar pedas Alek, saya hanya melihat iba padanya. Ia telah merasa tertipu oleh teman barunya. Keyakinan barunya. Saya hanya bisa menghela nafas setiap memandang Alek sekarang: apakah ini yang dikatakan kecelakaan bagi orang yang mengingkari prinsipnya?!
Aih, tapi saya tiba-tiba merasa lebih iba pada Dwi yang menjebak Alek dengan sms yang diawali ‘Bismillah’ dan balutan jilbab yang manis.
Aduh hidup ini: permainan penuh misteri!

Lidahwetan, 2010

CERPEN


Dia yang akan menembakmu

            “hati-hati. Sebentar lagi memasuki kotaku. Nanti dia akan menembakmu”, ujar pinasthi sambil menepuk bahuku.
            Sebantar kata-kata itu seperti deru angin. Malam pun bersekutu ria dengannya. Dingin menusuk sumsum. Sedang langit, telah berkerudung awan. Seperti sebuah isyarat yang bergemuruh di dada. Isyarat yang tiba-tiba terbetik, saat kusadar akan ada yang menembakku.
            Jam menunjuk pukul 18.45 saat pertigaan menghadang laju kendaraan. Laju pikiranku.
            ”Ambil kiri. Hati-hati ini sudah masuk kotaku. Nanti dia akan menembakmu” ujar pinasthi sambil menepuk bahu kiriku. Sedikit kupelankan motor. Jalanan tampak ramai. Dingin dan gelap masih belum benar-benar menutup lubang birahi perjalanan. Orang-orang, kendaraan berseliweran. Seolah mesti ada yang ditunaikan hari ini. Mungkin kenangan. Mungkin kewajiban. Atau mungkin kesia-siaan di tengah kesuntukan.
            Sebentar kuabaikan kata-kata itu: sebuah kota, dan dia yang akan menembakku. Tapi kata-kata itu kadung menjelma angin. Bersekutu ria dengan malam. Dingin dan menusuk. Dan tiba-tiba menyergap palung ingatan.
            ”kenapa?”
            ”kau memboncengku?”
            ”Kenapa?”
            ”Dia cemburu?”
            ”Kenapa?”
            ”Dia juga cinta padaku”
            Pinasthi begitu lepas menjawab pertanyaanku. Ia tanpa beban menjelaskan cerita yang seolah maha panjang. Yang seolah memintanya merangkumkannya untukku. Cerita tentang sebuah cinta.
Dia, mungkin lelaki, atau perempuan yang jatuh cinta pada dirinya, menurutnya adalah masa lalu. Cerita tentangnya, sebenarnya, jelas pinasthi. Hanyalah lipatan lembar-lembar buku yang menua.
”Seluruh kenangannya memang tidak lapuk. Tapi cinta mengatakan lebih dari semuanya”.
Dia, mungkin lelaki atau mungkin perempuan, mencintainya dan dicintainya sepenuh kata jiwa. Mereka mengenal dan mulai berbagi alamat rumah, tempat tongkrongan, dan nomor kontak, sejak kelas satu es-em-a. Dia, mungkin laki-laki atau perempuan, mula-mula menerimanya sepenuh hati. Menerima dengan segala hitam-putih hidupnya.
”Tapi masa lalu tidak sepenuhnya putih. Tidak sepenuhnya hitam. Masa lalu kadang lebih runcing dari silet. Dia merasa tertusuk dan berdarah”
Pinasthi mengatakan kata ’tertusuk’ dan ’berdarah’ berulang dan penuh tekanan. Tertusuk dan berdarah itu ternyata isyarat: dia mencampakkannya. Seperti daun pisang sehabis hujan, pinasthi pun meradang di tengah persimpangan jalan. Pinasthi meradang di jalan becek, di bawah lalu lalang orang. Di antara sayatan luka yang nyalang.
”terus?”
”dia akan menembakmu”
”Kenapa?”
Pinasthi mencubit punggungku. Ia menandaskan setiap pertanyaan tidak harus dijawab. Setiap peristiwa tibak semuanya membutuhkan alasan. Aku tiba-tiba teringat tentang peristiwa penembakan. Beberapa tahun lalu. Seorang wartawan mati ditembak. Sampai sekarang tidak jelas nasib dan arah ceritanya. Wartawan itu mati hanya karena ingin mengungkap cerita tak wajar.
saya ngeri mengingat nasib wartawan yang ditembak mati itu. Tapi tiba-tiba saya teringat lagi pada yang paling ngeri. Jauh di sana. Beberapa tahun lebih lama lagi. Berapa ribu kilo meter lebih jauh lagi. Orang-orang itu, penduduk desa itu, tanpa tahu alasan dan pertayaan mereka, harus mengerang di bawah bayang-bayang laras senapan. Sesudah itu, tak ada yang bisa memastikan: semuanya demi keamanan dan negara. Ini sebuh resiko. Dan cerita penembakan itu pun, ditutup. Seperti cerpen yang berlangsung di negeri antah berantah.
Sedang dia akan menembakku karena cinta. Karena membonceng pinasthi: aduh...

***



Dia yang akan menembakmu

            “hati-hati. Sebentar lagi memasuki kotaku. Nanti dia akan menembakmu”, ujar pinasthi sambil menepuk bahuku.
            Sebantar kata-kata itu seperti deru angin. Malam pun bersekutu ria dengannya. Dingin menusuk sumsum. Sedang langit, telah berkerudung awan. Seperti sebuah isyarat yang bergemuruh di dada. Isyarat yang tiba-tiba terbetik, saat kusadar akan ada yang menembakku.
            Jam menunjuk pukul 18.45 saat pertigaan menghadang laju kendaraan. Laju pikiranku.
            ”Ambil kiri. Hati-hati ini sudah masuk kotaku. Nanti dia akan menembakmu” ujar pinasthi sambil menepuk bahu kiriku. Sedikit kupelankan motor. Jalanan tampak ramai. Dingin dan gelap masih belum benar-benar menutup lubang birahi perjalanan. Orang-orang, kendaraan berseliweran. Seolah mesti ada yang ditunaikan hari ini. Mungkin kenangan. Mungkin kewajiban. Atau mungkin kesia-siaan di tengah kesuntukan.
            Sebentar kuabaikan kata-kata itu: sebuah kota, dan dia yang akan menembakku. Tapi kata-kata itu kadung menjelma angin. Bersekutu ria dengan malam. Dingin dan menusuk. Dan tiba-tiba menyergap palung ingatan.
            ”kenapa?”
            ”kau memboncengku?”
            ”Kenapa?”
            ”Dia cemburu?”
            ”Kenapa?”
            ”Dia juga cinta padaku”
            Pinasthi begitu lepas menjawab pertanyaanku. Ia tanpa beban menjelaskan cerita yang seolah maha panjang. Yang seolah memintanya merangkumkannya untukku. Cerita tentang sebuah cinta.
Dia, mungkin lelaki, atau perempuan yang jatuh cinta pada dirinya, menurutnya adalah masa lalu. Cerita tentangnya, sebenarnya, jelas pinasthi. Hanyalah lipatan lembar-lembar buku yang menua.
”Seluruh kenangannya memang tidak lapuk. Tapi cinta mengatakan lebih dari semuanya”.
Dia, mungkin lelaki atau mungkin perempuan, mencintainya dan dicintainya sepenuh kata jiwa. Mereka mengenal dan mulai berbagi alamat rumah, tempat tongkrongan, dan nomor kontak, sejak kelas satu es-em-a. Dia, mungkin laki-laki atau perempuan, mula-mula menerimanya sepenuh hati. Menerima dengan segala hitam-putih hidupnya.
”Tapi masa lalu tidak sepenuhnya putih. Tidak sepenuhnya hitam. Masa lalu kadang lebih runcing dari silet. Dia merasa tertusuk dan berdarah”
Pinasthi mengatakan kata ’tertusuk’ dan ’berdarah’ berulang dan penuh tekanan. Tertusuk dan berdarah itu ternyata isyarat: dia mencampakkannya. Seperti daun pisang sehabis hujan, pinasthi pun meradang di tengah persimpangan jalan. Pinasthi meradang di jalan becek, di bawah lalu lalang orang. Di antara sayatan luka yang nyalang.
”terus?”
”dia akan menembakmu”
”Kenapa?”
Pinasthi mencubit punggungku. Ia menandaskan setiap pertanyaan tidak harus dijawab. Setiap peristiwa tibak semuanya membutuhkan alasan. Aku tiba-tiba teringat tentang peristiwa penembakan. Beberapa tahun lalu. Seorang wartawan mati ditembak. Sampai sekarang tidak jelas nasib dan arah ceritanya. Wartawan itu mati hanya karena ingin mengungkap cerita tak wajar.
saya ngeri mengingat nasib wartawan yang ditembak mati itu. Tapi tiba-tiba saya teringat lagi pada yang paling ngeri. Jauh di sana. Beberapa tahun lebih lama lagi. Berapa ribu kilo meter lebih jauh lagi. Orang-orang itu, penduduk desa itu, tanpa tahu alasan dan pertayaan mereka, harus mengerang di bawah bayang-bayang laras senapan. Sesudah itu, tak ada yang bisa memastikan: semuanya demi keamanan dan negara. Ini sebuh resiko. Dan cerita penembakan itu pun, ditutup. Seperti cerpen yang berlangsung di negeri antah berantah.
Sedang dia akan menembakku karena cinta. Karena membonceng pinasthi: aduh...

***