Dia yang akan menembakmu
“hati-hati. Sebentar lagi memasuki kotaku. Nanti dia akan menembakmu”, ujar pinasthi sambil menepuk bahuku.
Sebantar kata-kata itu seperti deru angin. Malam pun bersekutu ria dengannya. Dingin menusuk sumsum. Sedang langit, telah berkerudung awan. Seperti sebuah isyarat yang bergemuruh di dada. Isyarat yang tiba-tiba terbetik, saat kusadar akan ada yang menembakku.
Jam menunjuk pukul 18.45 saat pertigaan menghadang laju kendaraan. Laju pikiranku.
”Ambil kiri. Hati-hati ini sudah masuk kotaku. Nanti dia akan menembakmu” ujar pinasthi sambil menepuk bahu kiriku. Sedikit kupelankan motor. Jalanan tampak ramai. Dingin dan gelap masih belum benar-benar menutup lubang birahi perjalanan. Orang-orang, kendaraan berseliweran. Seolah mesti ada yang ditunaikan hari ini. Mungkin kenangan. Mungkin kewajiban. Atau mungkin kesia-siaan di tengah kesuntukan.
Sebentar kuabaikan kata-kata itu: sebuah kota, dan dia yang akan menembakku. Tapi kata-kata itu kadung menjelma angin. Bersekutu ria dengan malam. Dingin dan menusuk. Dan tiba-tiba menyergap palung ingatan.
”kenapa?”
”kau memboncengku?”
”Kenapa?”
”Dia cemburu?”
”Kenapa?”
”Dia juga cinta padaku”
Pinasthi begitu lepas menjawab pertanyaanku. Ia tanpa beban menjelaskan cerita yang seolah maha panjang. Yang seolah memintanya merangkumkannya untukku. Cerita tentang sebuah cinta.
Dia, mungkin lelaki, atau perempuan yang jatuh cinta pada dirinya, menurutnya adalah masa lalu. Cerita tentangnya, sebenarnya, jelas pinasthi. Hanyalah lipatan lembar-lembar buku yang menua.
”Seluruh kenangannya memang tidak lapuk. Tapi cinta mengatakan lebih dari semuanya”.
Dia, mungkin lelaki atau mungkin perempuan, mencintainya dan dicintainya sepenuh kata jiwa. Mereka mengenal dan mulai berbagi alamat rumah, tempat tongkrongan, dan nomor kontak, sejak kelas satu es-em-a. Dia, mungkin laki-laki atau perempuan, mula-mula menerimanya sepenuh hati. Menerima dengan segala hitam-putih hidupnya.
”Tapi masa lalu tidak sepenuhnya putih. Tidak sepenuhnya hitam. Masa lalu kadang lebih runcing dari silet. Dia merasa tertusuk dan berdarah”
Pinasthi mengatakan kata ’tertusuk’ dan ’berdarah’ berulang dan penuh tekanan. Tertusuk dan berdarah itu ternyata isyarat: dia mencampakkannya. Seperti daun pisang sehabis hujan, pinasthi pun meradang di tengah persimpangan jalan. Pinasthi meradang di jalan becek, di bawah lalu lalang orang. Di antara sayatan luka yang nyalang.
”terus?”
”dia akan menembakmu”
”Kenapa?”
Pinasthi mencubit punggungku. Ia menandaskan setiap pertanyaan tidak harus dijawab. Setiap peristiwa tibak semuanya membutuhkan alasan. Aku tiba-tiba teringat tentang peristiwa penembakan. Beberapa tahun lalu. Seorang wartawan mati ditembak. Sampai sekarang tidak jelas nasib dan arah ceritanya. Wartawan itu mati hanya karena ingin mengungkap cerita tak wajar.
saya ngeri mengingat nasib wartawan yang ditembak mati itu. Tapi tiba-tiba saya teringat lagi pada yang paling ngeri. Jauh di sana. Beberapa tahun lebih lama lagi. Berapa ribu kilo meter lebih jauh lagi. Orang-orang itu, penduduk desa itu, tanpa tahu alasan dan pertayaan mereka, harus mengerang di bawah bayang-bayang laras senapan. Sesudah itu, tak ada yang bisa memastikan: semuanya demi keamanan dan negara. Ini sebuh resiko. Dan cerita penembakan itu pun, ditutup. Seperti cerpen yang berlangsung di negeri antah berantah.
Sedang dia akan menembakku karena cinta. Karena membonceng pinasthi: aduh...
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar